Rabu, 06 Mei 2020

Dengarkan Suka Duka Guru di Kota dan Desa - #BELAJARDARIRUMAH EPISODE 1

Kompas.com melalui daring bertemu dengan dengan dua guru; guru SMP di Ibu Kota Jakarta dan guru SDN di Kutai Kartanegara, serta orangtua murid, mendengarkan kisah suka dan duka mereka menghadapi masa belajar dari rumah akibat pandemi Covid-19.

Astungkara Cair, Ini Besaran THR PNS di Lebaran Tahun Ini


Pemerintah melalui Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, menyatakan tunjangan hari raya (THR) untuk pegawai negeri sipil (PNS) serta anggota TNI dan Polri, akan tetap diberikan sesuai jadwal pada tahun ini.

THR tersebut akan dibayarkan paling cepat 10 hari kerja sebelum Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Sementara itu, Lebaran Idul Fitri 2020 diperkirakan akan jatuh pada 24 Mei.

Keputusan pencairan THR ASN tertuang dalam Surat Menteri Keuangan Nomor S-343/MK/.02/2020 yang ditujukan kepada Menteri PANRB tersebut.

Dalam surat tersebut, Sri Mulyani melakukan beberapa perubahan mengenai pemberian THR kepada PNS, prajurit TNI, anggota Polri, pejabat negara, hingga para penerima pensiun. Hal ini karena saat ini fokus pemerintah untuk menangani pandemi virus corona atau Covid-19.

Sri Mulyani mengatakan, yang mendapatkan THR hanyalah PNS level eselon III ke bawah, itu pun besarannya tak penuh sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan eselon I, II serta pejabat lainnya tidak mendapatkan THR.

Menurut dia, besaran THR bagi ASN meliputi gaji pokok dan tunjangan melekat. Sementara untuk tunjangan kinerja (tukin) tidak dimasukkan dalam komponen THR PNS tahun ini.

Lalu berapa besaran THR yang diterima PNS di Lebaran 2020?

Untuk menghitung besaran THR bagi PNS, maka nilainya dihitung dari jumlah gaji pokok yang diterima PNS beserta tunjangan-tunjangannya yang melekat di dalamnya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2019, besaran gaji pokok PNS berjenjang sesuai golongan dan lama masa kerja yang dikenal dengan masa kerja golongan (MKG).

Berikut gaji PNS untuk golongan I hingga IV. Hitungan gaji dari yang paling terendah hingga tertinggi disesuaikan berdasarkan masa kerja atau MKG mulai dari kurang dari 1 tahun hingga 27 tahun.

Golongan I (lulusan SD dan SMP)

Golongan Ia: Rp 1.560.800 - Rp 2.335.800
Golongan Ib: Rp 1.704.500 - Rp 2.472.900
Golongan Ic: Rp 1.776.600 - Rp 2.577.500
Golongan Id: Rp 1.851.800 - Rp 2.686.500
Golongan II (lulusan SMP dan D-III)

Golongan IIa: Rp 2.022.200 - Rp 3.373.600
Golongan IIb: Rp 2.208.400 - Rp 3.516.300
Golongan IIc: Rp 2.301.800 - Rp 3.665.000
Golongan IId: Rp 2.399.200 - Rp 3.820.000
Golongan III (lulusan S1 hingga S3)

Golongan IIIa: Rp 2.579.400 - Rp 4.236.400
Golongan IIIb: Rp 2.688.500 - Rp 4.415.600
Golongan IIIc: Rp 2.802.300 - Rp 4.602.400
Golongan IIId: Rp 2.920.800 - Rp 4.797.000
Golongan IV

Golongan IVa: Rp 3.044.300 - Rp 5.000.000
Golongan IVb: Rp 3.173.100 - Rp 5.211.500
Golongan IVc: Rp 3.307.300 - Rp 5.431.900
Golongan IVd: Rp 3.447.200 - Rp 5.661.700
Golongan IVe: Rp 3.593.100 - Rp 5.901.200
Untuk tunjangan PNS yang melekat antara lain yakni tunjangan anak, tunjangan suami/istri, dan tunjangan makan.

Tunjangan makan yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 32 Tahun 2018 yakni sebesar Rp 35.000 untuk golongan I dan II, Rp 37.000 untuk golongan III, dan Rp 41.000 untuk golongan IV.

Lalu PNS juga mendapatkan suami/istri yang besarannya sebesar 5 persen dari gaji pokok. Terakhir yakni tunjangan anak yang ditetapkan sebesar 2 persen dari gaji pokok per anak dengan ketentuan maksimal tiga anak.

Untuk pejabat eselon IV ke atas, belum ada kepastian untuk pencairan THR di Lebaran tahun ini. Hal ini juga berlaku bagi menteri dan anggota DPR.

Sebelumnya, Sri Mulyani sempat mengatakan, Presiden Joko Widodo tengah melakukan beberapa pertimbangan terkait pembayaran gaji ke-13 dan THR untuk aparatur sipil negara (ASN) atau PNS di tengah pandemik virus corona atau Covid-19.

Dalam paparannya ketika melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2020) lalu, Sri Mulyani mengatakan, pertimbangan pembayaran gaji ke-13 tersebut terkait dengan belanja pemerintah yang mengalami tekanan.

Sebab, pemerintah secara jor-joran menggelontorkan insentif kepada dunia usaha serta bantuan sosial untuk meredam dampak virus corona.

THR yang didapat tidak sama seperti tahun sebelumnya. THR tahun ini hanya berupa gaji pokok plus tunjangan melekat, seperti tunjangan istri/suami dan anak. Namun, tidak termasuk tunjangan kinerja (tukin).
Sumber: kompas.com

Selasa, 05 Mei 2020

Kala Pendidikan Mensiasati Pandemi

Bali Tribune / Putu Suasta - Alumnus Fisipol UGM dan Universitas Cornell


COVID-19 sungguh berdampak luas. Ia melumpuhkan hampir semua sendi-sendi kehiduan umat manusia di dunia. Sejak virus corona ini merebak pertama kali di Wuhan, China di Desember 2019 lalu, dan setelahnya menyebar ke hampir segala penjuru dunia, umat manusia dari berbagai negara seperti tak putus dirundung malang. Data mutakhir Covid-19 per 29 April 2020 di dunia didapatkan angka: 3,1 juta kasus, 951.030 sembuh, 217.094 meninggal. Sementara update data Covid-19 di Indonesia pada waktu yang sama didapatkan angka: 9771 kasus, 1.391 sembuh, 784 meninggal.

Salah satu sendi kehidupan yang sangat terdampak langsung dari Covid-19 ini adalah dunia pendidikan di negeri ini, juga pasti terjadi di negara-negara lain di dunia. Padahal Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Makarim, begitu banyak memiliki gagasan dan terobosan-terobosan baru dan spektakuler yang hendak diterapkan dalam dunia pendidikan kita. Namun semua itu agaknya belum bisa sepenuhnya berjalan mengingat kendala Covid-19 ini. Mengantisipasi pandemi corona ini, proses belajar-mengajar akhirnya terpaksa dipindahkan ke rumah. 

Berkaitan dengan wabah corona ini, Sejak pertengahan Maret 2020, seluruh penyelenggara pendidikan formal di negeri ini terpaksa ‘merumahkan’ dunia pendidikan. Hal ini sejalan dengan keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) yang menerbitkan dua surat edaran terkait pencegahan dan penanganan Covid-19. Dua surat yang diterbitkan Kemendikbud itu pada pokoknya memuat tentang pencegahan dan penanganan Covid-19 di lingkungan Kemendikbud dan pencegahan Covid-19 di lingkungan satua pendidikan.

Pada awalnya masing-masing wilayah provinsi di negeri ini meliburkan sekolah selama dua minggu untuk mencegah dan memutuskan rantai virus corona di kalangan pelajar. Namun kemudian Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untu menerapkan belajar jarak jauh di semua jenjang pendidikan, dari PAUD hingga sekolah menengah di Jakarta. Konsep ini kemudian diikuti oleh sejumlah provinsi yang lain. Belajar jarak jauh pun kemudian diberlakukan kepada sejumlah perguruan tinggi di negeri ini. Sampai dengan 18 Maret 2020, tercatat 276 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia menerapkan kuliah daring. 

Anak didik kita yang selama ini mengalami proses belajar-mengajar secara konvensional; ruang kelas, tatap muka langsung, terjalinnya komunikasi verbal, keterlibatan kontak fisik langsung, namun kini berubah menjadi proses belajar-mengajar jarak jauh. Siap tak siap, mereka harus melalui semua ini sebagai bagian dari situasi yang dipaksa untuk ‘harus siap’. Situasi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, juga terjadi pula di dunia pendidikan begara-negara lain. Berdasarkan data UNESCO per 123 Maret 2020, baru ada 29 negara menerapkan kebijakan meliburkan sekolah. Pada 18 maret 2020, angka itu bertambah menjadi 112 negara. 

Meliburkan anak didik dalam rangka menghindari terdampak virus corona (Covid-19) bukanlah dalam arti kebebasan dalam proses belajar-mengajar. Mereka tetap belajar di rumah, mereka tetap menjalin komunikasi dengan pendidik melalui perangkat teknologi informasi (WAG, teleconference, media sosial). Menteri Nadiem Makarim melalui pemberitaan  tiada henti-hentinya mengingat seluruh pelaku pendidikan untuk melakukan proses belajar-mengajar dari rumah. “Kita sedang siapkan kalau nanti belajar dari rumah ini bisa terjadi sampai akhir tahun,” kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/4/2020). 

Sekolah Rumah

Sejak pertengahan Maret 2020, dunia pendidikan di negeri ini telah ‘dirumahkan’. Ini artinya, segala proses pendidikan; belajar-mengajar, konseling pendidikan antara guru-murid, komunikasi guru-orangtua, pembuatan laporan, sepenuhnya dilakukan dari rumah. Kini, dalam situasi kontekstual karena Covid-19, sekolah berlangsung di rumah. Bagi kebanyakan anak didik dan pendidik, hal ini tentu saja membuat mereka menjadi sangat canggung. 

Pemanfaatkan teknologi komunikasi seperti penggunaan HP, melakukan komunikasi edukasi melalui video call, tentu saja membuat mereka sedikit banyaknya menjadi gagap mengingat selama ini yang mereka kenal adalah pendidikan dengan kontak langsung di ruang-ruang kelas. Namun bagi pemerintah, tak ada pilihan lain selain terpaksa harus memanfaatkan semua hal yang memungkinkan untuk belajar di rumah (home learning).

Bahkan pemerintah juga harus memanfaatkan televisi untuk menjangkau lebih maksimal pencapaian proses belajar-mengajar di situasi pandemik ini dengan memanfaatkankerja sama dengan TVRI. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui TVRI meluncurkan program “Belajar dari Rumah” sebagai alternatif belajar di tengah pandemi Coranovirus Disease (Covid-19). Program ini direncanakan akan dimulai pada Senin, 13 April 2020 dan akan berjalan selama tiga bulan hingga Juli 2020. Demikian diungkapkan Mendikbud Nadiem Makarim  pada telekonferensi Peluncuran Program Belajar dari Rumah di Jakarta, Kamis (9/4/2020). 

Dalam program ‘Belajar dari Rumah’ ini, beberapa pihak, terutama pengamat pendidikan,  juga mengharapkan peran orangtua murid berperan aktif dalam proses belajar-mengajar dari rumah. Apalagi dalam situasi pandemi corona ini di mana semua anggota keluarga berkumpul di rumah dalam rangka mematuhi imbauan pemerintah untuk sementara ‘tetap tinggal di rumah’ (stay at home) demi memutuskan rantai penyebaran virus corona. 

Dalam proses pendidikan, belajar di rumah (home schooling) bukanlah suatu konsep yang baru sama sekali. Dalam penerapannya, home schooling bersifat ‘profesional’. Artinya, mereka—pendidik pendidik dan anak didik—tetap membutuhkan tatap muka dan peristiwa belajar-mengajar itu bersifat privat.  Mereka yang mengajar dalam pendidikan home schooling tidak selalu harus seorang guru, melainkan mereka yang memiliki keahlian tertentu, atau mereka adalah yang mendapatkan pengetahuan berdasarkan praktik lapangan. 

Itu sebabnya, di masa depan, home schooling bisa menjadi sangat penting dalam pendidikan sebagai praktik pembebasan. Orangtua-orangtua bebas menentukan pilihan dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. juga, mereka yang memiliki berbagai keahlian akan berperan besar dalam dunia pendidikan yang membebaskan itu. karena di masa depan, orang-orang tak lagi terpesona oleh ijazah, melainkan pembuktian keahlian yang dipunyai setiap orang. 

Untuk saat ini, belajar dari rumah adalah suatu kondisi yang sangat situasional. Kita tak mungkin bisa berharap banyak dari anak didik pada umumnya di tengah perubahan pola ajar dan pemanfaatan sarana prasarana yang sangat asing bagi mereka. Anak didik, dari PAUD hingga sekolah menengah, adalah para pelajar yang selama ini kebanyakan masih konvensional dalam penerimaan proses belajar-mengajar. Sulit berharap optimal dalam hal achievement dari para pelaku pendidikan dalam situasi yang  berubah ini, sama sulitnya berharap dari orangtua-orangtua yang bukan kapasitasnya mengambil alih pendidikan verbal di rumah untuk anak-anak mereka. 

Bagi orangtua murid, situasi yang sama sekali tak pernah mereka duga ini, tidak terlalu bisa diharapkan memainkan situasi ‘guru’ dalam program ‘Belajar di Rumah’. Meski mereka kini tinggal di rumah, bahkan mungkin berkerja di rumah, para orangtua murid sungguh-sungguh jauh dari terlatih untuk memainkan ‘peran pengganti’ sebagai guru dalam program belajar dari rumah. Mereka lebih mencemaskan pandemi dan pekerjaan mereka ketimbang menjadi bagian dari program belajar dari rumah. 

Sekolah Model Ashram

Hakikat pendidikan ialah memanusiakan manusia. Pendidikan, sekalipun itu di negara-negara maju, tujuan utamanya ialah humanisme. Dasar kemanusiaan tetap menjadi landasar paling dasar yang hendak dikokohkan dalam pendidikan yang mengutamakan humanisme. Pendidikan dasar dan menengh di sekolah-sekolah Australia, misalnya, lebih mementingkan pendidikan perilaku, adab dan moral yang baik ketimbang ilmu pengetahuan. bagi mereka, ilmu pengetahuan mudah dikejar, tetapi adalah hal sukar membangun superioritas budi pekerti. 

Itulah mengapa pendidikan yang humanis membutuhkan tatap muka, komunikasi verbal dan sarana prasarana yang konkrit. Pada pendidikan yang tak berjarak, semua menjadi mudah terungkap, mudah diterima, terjalin langsung dalam komunikasi yang tak lagi disekati layar-layar komputer atau smartphone. Dalam kebersamaan di situasi yang konkret, nyata dan jelas, segala teladan, ekspresi kognitif dan afektif akan menguatkan jalinan relasi antara pendidik dan anak didik. Karena bagaimanapun, hakikat pendidikan tak bisa lain adalah membentuk dan menjaga hal-hal humanis dari manusia itu sendiri. 

Pendidikan model ashram adalah praktik yang memberi ruang besar kepada integritas kemanusiaan pada anak didik. Meski tak sekaku model sekolah formal, namun tradisi ashram juga mengenal kedisiplinan, terutama berkaitan dengan praktik-praktik keagungan moral, merasai secara nyata segala pengetahuan yang selama ini hanya diceramahi oleh guru, dan yang yang terpenting ialah penekanan untuk apa anak didik mempelajari dan memahami sesuatu. Gaya hidup ashram sesungguhnya menerjemahkan upaya mereka yang nyantrik di situ untuk menemukan yang paling inti dari filosofi keberadaan mereka dalam memahami diri dan di luar diri.

Pendidikan semacam ini telah diterjemahkan oleh, misalnya, Anand Ashram, di Ubud. Anand Asram membuka ilmu pengetahuan dalam bentuk penyadaran akan hakikat keberadaan manusia di tengah ilmu pengetrahuan. Ada hal lain yang juga menjadi pertimbangan manusia mengapa pengenalan diri secara mendalam lebih utama diperhatikan sebelum hal lainnya, misalnya seperti sains, teknologi atau hal lainnya. Anand Ashram pada hakikatnya memberi kesadaran baru bagi siapa pun yang mencoba memahami pengetahuan dan pendidikan secara terbuka. 

Di masa mendatang, pendidikan model ashram bisa menjadi inspirasi dalam pendidikan Indonesia yang dipadukan dengan karakter bangsa. Gaya asrham sebetulnya telah berlangsung dalam pendidikan formal konsevatif di sejumlah negara di Eropa yang meski tetap memberi hal penting kepada ilmu pengetahuan, namun mata pelajaran tata adab masih menjadi hal yang sama sekali tak dikesampingkan. Dalam konsep ashram, peranan para guru bukan lagi sekadar pengajar, melainkan menjadi panutan moral dan teladan. 

Pendidikan adalah pergerakan kemanusiaan. Pendidikan seharusnya melahirkan generasi yang menjunjung keutamaan adab daripada kecerdasan yang lepas dari hal-hal rohani. Ada sejumlah konsep-konsep tradisional pada bangsa kita dalam mengambil peran dalam hal pendidikan bangsa. Konsep pendidikan ashram, misalnya. Dalam pengertian yang relatif longgar, sekeha-sekeha di Bali atau pondok-pondok pesantren di Jawa juga berpeluang dijadikan ruang terbuka untuk proses pembelajaran warga. 

Bagaimanapun, belajar di rumah atau pendidikan jarak jauh memisahkan interaksi manusiawi antara guru dan anak didik. Dan secara kemanusiaan, itu mengeringkan jiwa anak didik. Ingatlah, ruang utama pendidikan anak manusia ialah tetap menjaga dan menghidupkan kegairahan jiwa anak didik  dalam menempatkan diri mereka di hadapan ilmu pengetahuan dan cita rasa keberadaban. Karena itu, kita berharap semoga sekolah-sekolah di negeri ini tidak terlalu lama ‘dirumahkan’ 

Senin, 04 Mei 2020

5 cara dari UNICEF untuk membantu menjaga anak-anak tetap belajar selama pandemi COVID-19



Pandemi penyakit coronavirus (COVID-19) telah mengubah kehidupan keluarga di seluruh dunia. Penutupan sekolah, bekerja dari jarak jauh, jarak fisik - banyak menavigasi bagi orang tua untuk menavigasi. Robert Jenkins, Kepala Pendidikan Global UNICEF, menawarkan lima tips untuk membantu menjaga pendidikan anak-anak tetap di jalurnya saat mereka tinggal di rumah.

1. Rencanakan rutinitas bersama
Cobalah untuk membangun rutinitas yang menjadi faktor dalam program pendidikan sesuai usia yang dapat diikuti secara online, di televisi atau melalui radio. Juga, faktor waktu bermain dan waktu untuk membaca. Gunakan kegiatan sehari-hari sebagai kesempatan belajar untuk anak-anak Anda. Dan jangan lupa untuk membuat rencana ini bersama jika memungkinkan.

Walaupun menetapkan rutinitas dan struktur sangat penting bagi anak-anak dan remaja, pada masa-masa ini Anda mungkin memperhatikan anak-anak Anda memerlukan tingkat fleksibilitas tertentu. Ganti aktivitas Anda. Jika anak Anda tampak gelisah dan gelisah ketika Anda mencoba mengikuti program pembelajaran online bersama mereka, beralihlah ke opsi yang lebih aktif. Jangan lupa bahwa merencanakan dan melakukan tugas rumah bersama dengan aman sangat bagus untuk pengembangan fungsi motorik halus dan kasar. Cobalah dan tetap selaras dengan kebutuhan mereka mungkin.

2. Lakukan percakapan terbuka
Dorong anak-anak Anda untuk bertanya dan mengungkapkan perasaan mereka kepada Anda. Ingatlah bahwa anak Anda mungkin memiliki reaksi yang berbeda terhadap stres, jadi bersabarlah dan pengertian. Mulailah dengan mengundang anak Anda untuk membicarakan masalah ini. Cari tahu berapa banyak yang sudah mereka ketahui dan ikuti jejak mereka. Diskusikan praktik kebersihan yang baik. Anda dapat menggunakan momen sehari-hari untuk memperkuat pentingnya hal-hal seperti mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh. Pastikan Anda berada di lingkungan yang aman dan biarkan anak Anda berbicara dengan bebas. Menggambar, cerita, dan kegiatan lainnya dapat membantu membuka diskusi.

Cobalah untuk tidak meminimalkan atau menghindari kekhawatiran mereka. Pastikan untuk mengakui perasaan mereka dan meyakinkan mereka bahwa wajar untuk merasa takut tentang hal-hal ini. Tunjukkan bahwa Anda mendengarkan dengan memberi mereka perhatian penuh, dan pastikan mereka mengerti bahwa mereka dapat berbicara dengan Anda dan guru mereka kapan pun mereka mau. Peringatkan mereka tentang berita palsu dan dorong mereka - dan ingatkan diri Anda - untuk menggunakan sumber informasi tepercaya seperti panduan UNICEF.

3. Luangkan waktu Anda
Mulailah dengan sesi belajar yang lebih singkat dan membuatnya lebih lama secara progresif. Jika tujuannya adalah untuk sesi 30- atau 45 menit, mulailah dengan 10 menit dan bangun dari sana. Dalam satu sesi, kombinasikan waktu online atau layar dengan aktivitas atau latihan offline.

4. Lindungi anak-anak secara online
Platform digital memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk terus belajar, ikut bermain dan tetap berhubungan dengan teman-teman mereka. Tetapi peningkatan akses online membawa risiko tinggi untuk keselamatan, perlindungan, dan privasi anak-anak. Diskusikan internet dengan anak-anak Anda sehingga mereka tahu cara kerjanya, apa yang perlu mereka ketahui, dan seperti apa perilaku yang sesuai pada platform yang mereka gunakan, seperti panggilan video.

Buat aturan bersama tentang bagaimana, kapan dan di mana internet dapat digunakan. Atur kontrol orangtua pada perangkat mereka untuk mengurangi risiko online, terutama untuk anak-anak yang lebih kecil. Identifikasi alat online yang sesuai untuk rekreasi bersama - organisasi seperti Common Sense Media menawarkan saran untuk aplikasi, permainan, dan hiburan online lain yang sesuai usia. Dalam kasus cyberbullying atau insiden konten yang tidak pantas secara online, kenali sekolah dan mekanisme pelaporan lokal lainnya, jaga agar jumlah saluran bantuan dan hotline dukungan tetap berguna.

Jangan lupa bahwa anak-anak atau remaja tidak perlu membagikan foto diri mereka atau informasi pribadi lainnya untuk mengakses pembelajaran digital.

5. Tetap berhubungan dengan fasilitas pendidikan anak-anak Anda
Cari tahu cara tetap berhubungan dengan guru atau sekolah anak-anak Anda untuk tetap mendapat informasi, mengajukan pertanyaan dan mendapatkan panduan lebih lanjut. Kelompok orang tua atau kelompok masyarakat juga dapat menjadi cara yang baik untuk saling mendukung dengan sekolah rumah Anda.

Untuk lebih banyak kiat bagi orang tua yang menavigasi pandemi COVID-19, kunjungi panduan Coronavirus (COVID-19) UNICEF untuk orang tua .

Ayo Ayah Ibu Jadi Guru!


Oleh: Prof. Sri Minda Murni

Peristiwa pandemi Covid-19 telah menimbulkan masalah besar bagi dunia pendidikan kita. Lembaga pendidikan seolah lumpuh dan anak-anak tidak lagi dapat belajar sebagaimana mestinya.

Salah satu jalan keluar terbaik saat ini adalah kembali melirik fungsi rumah sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama.

Sebagai lembaga pendidikan, keutamaan rumah sesungguhnya melebihi keutamaan semua lembaga pendidikan.

Namun dengan alasan tidak semua rumah memiliki sumber daya manusia, Ayah, Ibu dam orang dewasa lain, yang mumpuni dan memiliki ilmu serta kelapangan waktu membuat peran utama rumah sebagai lembaga pendidikan utama bergeser dan tergerus terus dari waktu ke waktu.

Potensi keluarga sebagai lembaga pendidikan
Padahal sepanjang rumah tetap setia pada fungsinya sebagai lembaga pendidikan utama maka perubahan apapun yang terjadi - yang mengimbas pada lembaga sekolah dan masyarakat - tidak akan mampu mengguncang anak-anak kita.

Keluarga sesungguhnya memiliki semua hal yang dimiliki lembaga pendidikan formal seperti target/sasaran, kurikulum, dan evaluasi.

Tulisan ini bertujuan memotivasi Ayah/Ibu untuk menjadikan kembali rumah sebagai lembaga pendidikan utama bagi anak-anak mereka.

1. Target pendidikan keluarga

Nilai/sikap, pengetahuan, dan keterampilan merupakan tiga target/sasaran perubahan dalam pendidikan keluarga.

Setiap rumah tangga dengan kompetensi sumber daya manusia yang rendah sekalipun dapat dipastikan mengajarkan nilai/sikap misal hormat pada orangtua, sayang kepada saudara, berlaku jujur, dan bekerja sama,

Pengetahuan pun secara sederhana diajarkan seperti misal menggunakan sapaan yang berbeda kepada kerabat dengan pertalian darah yang berbeda, menghitung kembalian uang secara benar bila disuruh ke warung oleh Ayah/Ibu.

Demikian juga keterampilan secara sederhana diajarkan seperti misalnya keterampilan membersihkan diri dan memakai pakaian secara benar.

Ini semua merupakan bukti bahwa hampir semua keluarga sangat akrab dengan tiga sasaran perubahan pendidikan ini walaupun sebahagian besar tidak tahu dan tidak merasa perlu memetakannya: yang mana aspek nilai/sikap, yang mana aspek pengetahuan, dan yang mana aspek keterampilan.

2. Kurikulum pendidikan keluarga

Tuntutan orangtua terhadap anak – sebagaimana juga halnya pada pendidikan formal - tidak statis tetapi terus dinamis seiring dengan bertambahnya usia.

Anak yang lebih muda diperkenalkan dengan nilai/sikap misal bekerja sama secara sederhana. Lebih besar sedikit diharapkan mampu berkontribusi secara aktif tanpa disuruh.

Semakin dewasa diharapkan dapat berkontribusi secara efektif dengan menggalang dan menginisiasi kerja sama dalam keluarga.

Demikian juga halnya dengan pengetahuan dan keterampilan, setiap keluarga mengharapkan anak tumbuh mulai dari tingkat yang sederhana, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan secara aktif, dan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilki secara efektif.

Ini juga merupakan bukti bahwa setiap rumah tangga juga memiliki kurikulum. Walau tidak secara sistematis dan formal tersusun, kurikulum itu setidaknya terdapat pada pikiran, harapan, dan tuntutan orangtua terhadap anak-anak mereka.


3. Evaluasi

Setiap keluarga juga akrab dengan evaluasi karena mereka senantiasa juga mengevaluasi perkembangan anak-anak mereka. Walau kadang-kadang bersifat subjektif, setiap keluarga mampu menemukan kelemahan dan kekuatan yang dimiliki setiap anak mereka.

Ayah, Ibu ayo belajar jadi guru
Untuk menjadi guru yang baik bagi anak-anak, ada beberapa hal yang Ayah/Ibu perlu pelajari dan dalami yakni :

Bagaimana strategi menumbuhkan nilai/sikap,
Bagaimana strategi membangun pengetahuan secara kontekstual, dan
Bagaimana mengembangkan keterampilan yang relevan.
Sebagian dari strategi ini sebenarnya sudah Ayah/Ibu miliki, sekarang tinggal mengaktualisasikannya lebih terarah dan maksimal dalam kehidupan anak-anak di rumah.

Menjadikan diri sebagai figur teladan untuk pengembangan karakter

Ayah/ibu lah yang paling mengetahui nilai/sikap apa yang lebih dulu diutamakan. Yang perlu menjadi pegangan adalah bagaimana menanamkan nilai/sikap itu agar benar-benar berkembang menjadi karakter pada anak.

Salah satu caranya adalah dengan memberi anak pengalaman yang baik tentang penerapan nilai tersebut. Misal nilai/sikap jujur. Ayah/Ibu perlu memberi pengalaman kepada anak diperlakukan secara jujur.

Dengan cara itu ia anak akan merasakan keuntungan dan rasa senang terhadap nilai tersebut sehingga anak dapat dipastikan akan mengapresiasi nilai tersebut. Apabila pengalaman baik ini terus menerus diberikan, maka anak akan menjadikan kejujuran sebagai karakter pribadinya.

Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan

Ayah/Ibu tidak harus berpatokan pada kurikulum sekolah walau bagi yang ingin dan mampu hal itu boleh-boleh saja dilakukan.

Yang penting bagi Ayah/Ibu adalah mengenali diri sendiri untuk mengidentifikasi pengetahuan dan informasi yang dimiliki dan mulailah pembelajaran dari sana.

Apabila ayah/Ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang nama-nama Presiden Indonesia, pembelajaran dapat dapat dimulai dari sana secara informal dan menyenangkan.

Demikian juga, apabila Ayah/Ibu hanya memiliki pengetahuan mengenai struktur kepegawaian dimana Ayah/Ibu bekerja, Ayah/Ibu juga dapat mulai dari sana.

Untuk Ayah/Ibu yang terampil menulis berita dan mengajarkannya kepada anak, dapat dipastikan anak akan memperoleh pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan karena ia belajar dari tangan pertama dan profesional.

Demikian juga bila Ayah/Ibu terampil dalam mengolah masakan, keterampilan itu dapat diajarkan kepada anak secara aktif dan menyenangkan.

Pengetahuan dan pengalaman keterampilan yang diperoleh secara kontekstual seperti ini dapat dipastikan akan bertahan lama dengan tingkat pemahaman yang tinggi bila dibandingkan dengan informasi yang tidak kontekstual yang kadang-kadang terdapat pada kurikulum sekolah.

Pandemi menjadi titik balik
Betapa sebenarnya selama ini peran Ayah/Ibu sebagai guru terbaik bagi anak-anak mereka telah terlalu lama kita abaikan.

Semoga dengan peristiwa pandemi Covid-19 ini pilar pendidikan yang telah lama terabaikan ini dapat kembali kita tegakkan.

Bersama-sama dengan seluruh upaya yang sedang dikerjakan oleh Kemendikbud, mari kita perkuat fungsi rumah sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama dan Ayah/Ibu lah sebagai guru-guru harapan kita semua.
Sumber: kompas.com

Minggu, 03 Mei 2020

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda

1. Pintu mana yang aman?


10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
Suatu pagi, Mary kecil terperangkap di sebuah kastil di Kosta Rika. Ada 4 pintu, tetapi hanya satu yang mengarah ke kebebasan. Pintu-pintu terbuka sebagai berikut:
  1. Lava itu akan langsung melelehkan siapa pun
  2. Seorang badut pembunuh yang akan memukul siapa pun hingga mati
  3. Embun beku mematikan yang akan membekukannya sekaligus
  4. Polisi yang akan menembak pria atau wanita mana saja tanpa pandang bulu
Pintu mana yang harus dia pilih?

2. Menara Eiffel

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
Guy de Maupassant membenci Menara Eiffel. Jadi setiap hari, dia makan siang di satu tempat di mana itu tidak terlihat. Tempat apa itu?

3. Pembunuhan di sauna

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
4 teman secara teratur mengunjungi sauna bersama. Mereka selalu membawa sesuatu. Jack, seorang musisi, membawa iPod untuk mendengarkan musik. Steve, seorang bankir, mengambil termos untuk diminum. Patrick dan Michael adalah pengacara dan mengambil dokumen untuk dibaca.
Suatu hari, Patrick ditemukan tewas. Dia terbunuh oleh benda tajam. Polisi segera datang dan melakukan penyelidikan. Mereka tidak menemukan apa pun.
Bagaimana ini bisa terjadi?

4. Istri yang marah

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
Pete memanggil istrinya dan berkata bahwa dia akan berada di rumah jam 8. Dia datang jam 8:05. Mereka tidak punya rencana khusus tetapi tetap saja, istri marah karena terlambat.
Kenapa dia menjadi sangat marah?

5. Lalat dalam kopi

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
Brendon duduk di kedai kopi dan menemukan seekor lalat di minumannya. Dia meminta pelayan untuk membawakannya kopi lagi. Setelah menerima cangkir baru dan menyesapnya, dia menjadi marah. Brendon menyadari bahwa itu adalah cangkir kopi yang sama yang dia miliki di tempat pertama.
Bagaimana dia tahu dia minum kopi yang sama?

6. Patung yang rusak

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
John sendirian di rumah dan mendengar ada sesuatu yang jatuh di kamar istrinya. Dia masuk dan melihat bahwa patung favoritnya rusak. Pada saat itu seseorang berlari keluar ruangan.
John mencoba mengejar ketinggalan dengan orang asing itu. Tapi di jalan, lensa di kacamatanya berkabut karena cuaca dingin. Dia tidak bisa melihat apa-apa, memberi orang asing itu kesempatan untuk menghilang.
John menceritakan kisah ini kepada seorang polisi tetapi dia menolak untuk menyelidiki kasus ini. Polisi itu memintanya untuk berhenti berbohong dan mengakui bahwa dialah yang telah mematahkan patung itu.
Apakah kisah John sebenarnya palsu?

7. Tn. James sudah mati.

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
Pak James ditemukan tewas di kamarnya. Kamar tidak memiliki jendela dan pintunya terkunci. Hanya 4 orang yang memiliki kunci kamar yang ditanyai.
Sophia si pelayan: “Saya datang untuk membangunkan Tuan James; ketika saya melihat dia mati, saya berteriak! "
Kepala pelayan John: "Ketika saya mendengar teriakan itu, saya berlari ke dalam ruangan, menyalakan lampu dan melihat Pak James dengan pisau di lehernya."
Sarah, pengasuh: “Aku bergegas bersama John; ketika dia menyalakan lampu, ruangan itu berdarah. "
Jack si juru masak: "Saya sedang menyiapkan sarapan dan tidak melihat apa-apa."
Siapa yang melakukannya?

8. Orang asing yang akrab

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
Stan bertemu orang asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Stan baru saja mendengar tentang dia dan tidak ada deskripsi penampilannya yang pernah disebutkan. Dia tidak terkenal. Namun demikian, Stan langsung mengerti siapa pria itu.
Bagaimana ini mungkin?

9. Mobil tertutup

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda
Seorang pria tertembak di dalam mobil. Tidak ada jejak bubuk mesiu di pakaiannya. Itu berarti bahwa seorang pembunuh tidak ada di dalam mobil saat menembaknya. Tidak ada lubang peluru di mobil. Selain itu, semua pintu dan jendela tertutup.
Bagaimana mereka bisa membunuhnya?

10. Kunci harta karun

10 Teka-teki dan Cerita Detektif Pendek untuk Menguji Logika Anda


Seorang petualang menemukan peti harta karun di sebuah gua yang dijaga oleh seorang bajak laut. Dia memiliki 3 kunci emas, perak dan hitam. Tetapi hanya satu dari mereka yang bisa membuka peti itu. Perompak hanya memberi petualang satu kesempatan untuk mencapai harta karun itu.
Jika dia memilih kunci yang tepat, dia akan mengambil peti itu. Jika dia salah, bajak laut akan membunuhnya di sana. Satu-satunya petunjuk adalah sandi ini: TGK HOE ELY DEN.
Manakah kunci yang tepat?

Sabtu, 02 Mei 2020

Mendikbud: Krisis Covid-19 Menyadarkan bahwa Belajar Bisa di Mana Saja

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, krisis pandemi Covid-19 membawa beragam hikmah khususnya bagi dunia pendidikan.


Menurut Nadiem, pandemi Covid-19 telah menyadarkan para guru bahwa pembelajaran bisa terjadi di mana saja.

"Dari krisis ini kita dapat banyak hikmah dan pembelajaran yang bisa kita terapkan saat kondisi krisis dan setelahnya. Untuk pertama kali, guru-guru mengajar lewat online, menggunakan tools baru dan menyadari bahwa pembelajaran bisa terjadi di manapun," kata Nadiem dalam konferensi pers 'Belajar dari Covid-19' yang ditayangkan BNPB, Sabtu (2/5/2020).

Selain itu, Nadiem mengatakan, masa-masa ini juga menyadarkan para orangtua siswa tentang peran seorang guru dalam mengajar.

"Orangtua untuk pertama kalinya menyadari betapa sulitnya tugas guru, betapa sulitnya tantangan untuk bisa mengajar anak secara efektif dan menimbulkan empati kepada para guru yang mungkin sebelumnya belum ada," tutur Nadiem.

Ia pun mengingatkan bahwa pendidikan yang efektif tak akan berhasil tanpa peran guru, orangtua, dan siswa itu sendiri.

Nadiem menuturkan, guru, orangtua, dan siswa harus bekerja sama demi mencapai tujuan pendidikan yang efektif.

"Guru, siswa, dan orangtua menyadari bahwa pendidikan bukan hanya hal yang dilakukan di sekolah. Pendidikan yang efektif membutuhkan kolaborasi efektif dari tiga pihak ini," ucapnya.

"Tanpa ada kolaborasi, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi," imbuh Nadiem.

Ia berharap segala pembelajaran yang didapatkan selama pandemi Covid-19 ini dapat terus dikembangkan bahkan hingga krisis berlalu.

Menurut Nadiem, pandemi Covid-19 dapat menjadi titik mulai bagi masyarakat menjadi lebih baik di masa mendatang.

"Tumbuhnya empati dan solidaritas saat pandemi ini merupakan suatu pembelajaran yang harus kita kembangkan tidak hanya saat krisis, tapi juga saat krisis berlalu," kata Nadiem.

"Belajar memang tidak selalu mudah. Kini saatnya kita berinovasi, bereksperimen, saatnya mendengarkan hati nurani kita dan belajar dari Covid-19 agar menjadi bangsa yang lebih baik di masa depan," tutur dia.

  • Sumber: kompas.com

Ben Pidan Masuk Pak/Bu Guru?



Hallo ma bro and sis...  Kali ini kami buat lagu dg tema kerinduan siswa dg sekolah,  kerinduan siswa dg canda tawa bersama teman disekolah,  dalam lirik bahasa Bali.
Klip ini dukungan dan pastisipasi pelajar Indonesia dan Guru Honor.  Terima kasih kami ucapkan sudah bersedia berswapoto dg tema melawan virus corona.  Semoga virus corona cepat musnah dari Bumi ini.

Ketut Adi Saguna

Sejarah Singkat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Dirayakan Tiap 2 Mei

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020 Setiap tanggal 2 Mei, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, Pahlawan Nasional yang dihormati sebagai Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia. Sejarah Hari Pendidikan Nasional memang tak bisa dilepaskan dari sosok dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, sang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.


Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli R.M. Suwardi Suryaningrat lahir dari keluarga ningrat di Yogyakarta, 2 Mei 1889.  Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Ia mengenyam pendidikan di STOVIA, namun tidak dapat menyelesaikannya karena sakit. Akhirnya, Ia bekerja menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar, seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.

Selama era kolonialisme Belanda, ia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau kaum priyayi yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Ditetapkannya tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional tidak terlepas dari jasa-jasa salah satu tokoh dan Pahlawan Nasional Ki Hadjar Dewantara.

Beliau merupakan pelopor kebangkitan pendidikan di Indonesia.

Dikutip dari berbagai sumber, Ki Hadjar Dewantara merupakan pelopor berdirinya Perguruan Taman Siswa yang akhirnya menjadi cikal-bakal berdirinya lembaga pendidikan di Indonesia.

Ia mendirikan taman siswa pada tanggal 3 Juli 1922 setelah pulang dari pengasingan di Belanda.

Pendirian Perguruan taman Siswa ini ditujukan sebagai tempat bagi orang-orang pribumi untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Karena pada zaman itu untuk mendapatkan pendidikan formal sangat susah.


Hanya kaum bangsawan dan orang-orang Belanda yang memiliki akses ke sekolah-sekolah jaman itu

KI Hadjar Dewantara merupakan seorang penulis, wartawan muda dan tokoh yang aktif di organisasi pemuda pada masa kolonial Belanda.

Tulisan-tulisannya terkenal keras dan mengandung kritikan-kritikan pedas yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda atas tindakan yang sewenang-wenang kepada orang-orang pribumi

Akibat kritikan dan tulisannya yang pedas, ia kemudian diasingkan ke Bangka lalu dipindahkan ke Belanda bersama dua rekannya Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo pada tahun 1933.

Pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan, KI Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan yang menjabat dari tanggal 19 Agustus 1945 hingga 14 November 1945.

Beliau terkenal dengan slogannya yang membangkitkan semangat pendidikan di Indonesia dalam bahasa Jawa yakni:

““Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Slogan tersebut berarti sebagai berikut “Di Depan menjadi Contoh atau Panutan, Di Tengah Berbuat Keseimbangan atau merangkul, dan Di Belakang memberikan Dorongan atau Mendorong”.

Atas jasa-jasanya itu, pada tanggal 16 Desember 1959 pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Tanggal 2 Mei merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara

Penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hardiknas ini dituangkan dalam Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Selain diperingati sebagai Bapak Pendidikan, beliau juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bidang pendidikan.

Dari berbagai sumber