Selasa, 21 April 2020

Sejarah Hari Kartini 21 April Dan Tinjauan Pemikirannya


Kartini menjadi salah satu sosok penting dalam emansipasi wanita di Indonesia. Oleh karena itu lah, tanggal 21 April yang juga merupakan hari lahir perempuan asal Jepara, Jawa Timur, tersebut diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasa-jasanya dalam kesetaraan gender.
Peringatan Hari Kartini tersebut dirayakan setelah 2 Mei 1964, usai Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964. Dalam keputusan tersebut, Kartini juga ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879, dan berasal dari kalangan bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan M.A. Ngasirah.
Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.
Sementara itu Sosrokartono, kakak Kartini, merupakan orang yang pandai dalam bidang bahasa. Hingga usianya yang ke 12 tahun, ia diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School) di mana Kartini belajar bahasa Belanda.
Setelahnya, ia terpaksa meninggalkan sekolah karena sudah bisa dipingit untuk kemudian menunggu calon suaminya melamar.
Semasa lajang sebagai perempuan mandiri, Kartini telah melahirkan sejumlah tulisan, seperti “Upacara Perkawinan pada Suku Koja" yang terbit di Holandsche Lelie saat berusia 14 tahun.
Selama masa pingit yang ia jalani, ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda menggunakan kemampuan berbahasa Belanda yang ia miliki. Salah satu temannya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.
Dilansir Intersections, surat-surat yang dikirimkan menguraikan pemikiran Kartini terkait berbagai masalah termasuk tradisi feudal yang menindas, pernikahan paksa dan poligami bagi perempuan Jawa kelas atas, dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.
Di sisi lain, surat-surat tersebut juga mencerminkan pengalaman hidup Kartini sebagai putri seorang bupati Jawa.
Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang dibacanya, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir para perempuan Eropa. Oleh sebab itu lah, timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi yang memiliki status sosial yang rendah salah satunya karena pendidikan yang terbatas.
Tidak lama, Kartini dijodohkan oleh orang tuanya dengan bupati Rembang bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang pernah memiliki tiga istri. Suami Kartini memberikan izin kepadanya untuk mendirikan sekolah wanita.
Setelah pernikahannya dengan bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat, Kartini merasakan horison pemikirannya berkembang.
“Di rumah orang tua saya dulu, saya sudah tahu banyak. Tetapi di sini, di mana suami saya bersama saya memikirkan segala sesuatu, di mana saya turut menghayati seluruh kehidupannya, turut menghayati pekerjaannya, usahanya, maka saya jauh lebih banyak lagi menjadi tahu tentang hal-hal yang mula-mula tidak saya ketahui. Bahkan tidak saya duga, bahwa hal itu ada", tulis Kartini kepada Nyonya Abendanon yang menjadi sahabat penanya (Surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri, 10 Agustus 1904).
Kartini meninggal usai melahirkan anaknya, Soesalit Djojoadhiningrat, tanggal 17 September 1904 di usia 25 tahun.
Sepeninggalnya, J.H. Abendanon, yang juga merupakan Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda tahun 1900-1905, mengumpulkan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa.
Buku pertamanya diberi judul Door Duisternis tot Licht yang berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya, yang diterbitkan pada 1911.
Di tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Melayi dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane, seorang sastrawan Pujangga Baru.
Sementara itu, surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers.
Terbitnya surat-surat Kartini sangat menarik perhatian masyarakat Belanda. Di sisi lain, pemikiran-pemikiran Kartini juga mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Salah satunya adalah Van Deventer, seorang tokoh politik etis atau politik balas budi.
Ketika surat-surat Kartini diterbitkan pada tahun 1911, Van Deventer terkesan sehingga tergerak untuk menulis sebuah resensi untuk menyebarluaskan cita-cita Kartini. Cita-cita Kartini tersebut ia rasa cocok dengan cita-cita Deventer sendiri yakni mengangkat bangsa pribumi secara rohani dan ekonomis, serta memperjuangkan emansipasi mereka.
Sesudah Van Deventer meninggal di tahun 1915, istrinya mendirikan Yayasan Kartini untuk membuka sekolah-sekolah bagi wanita pribumi.
Nyonya Deventer sendirilah yang mengurus segala-galanya hingga ribuan murid puteri pun memasuki Sekolah Kartini yang bernaung dibawah Yayasan Kartini.
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Sumber: tirto.id

Senin, 20 April 2020

Kumpulan Situs Pendidikan Berdasarkan Mata Pelajaran Yang Dapat Menjadi Rujukan Guru, Orang Tua dan Siswa


Untuk mendukung kegiatan belajar dari rumah selama pandemi covid-19 kami mempersembahkan ebook kumpulan situs-situs belajar di Internet yang bisa dimanfaatkan oleh keluarga Indonesia dimanapun berada.
Kumpulan situs-situs belajar ini disusun secara tematik dan per mata pelajaran, juga disertai alat-alat bantu untuk proses belajar anak di Internet. Harapan kami, ebook ini bisa membantu proses belajar anak-anak, baik di sekolah maupun di rumah.

Minggu, 19 April 2020

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Siswa Agar Terhindar Covid-19


    Siswa sekolah yang saat ini mengikuti pembelajaran jarak jauh, harus memahami apa itu virus corona. Selain paham, kamu juga harus mau mengikuti aturan atau imbauan dari pemerintah untuk tetap di rumah saja.
Melansir laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemdikbud), berikut ini dijelaskan seputar Covid-19, mulai dari gejala klinis, penularan, upaya pencegahan dan lain-lain.

Gejala klinis

  1. Demam
  2. Batuk dan pilek
  3. Letih dan les
  4. Sakit tenggorokan
  5. Gangguan (sesak) pernapasan

Penularan

  1. Droplets atau tetesan cairan yang berasal dari batuk dan bersin.
  2. Kontak pribadi seperti menyentuh dan berjabat tangan.
  3. Menyentuh benda atau permukaan dengan virus di atasnya, kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata sebelum mencuci tangan.

Cegah Covid-19

Sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19, maka kamu harus:
  1. Sering cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir.
  2. Gunakan hand sanitizer jika tidak ada air dan sabun.
  3. Belajar di rumah.
  4. Jaga jarak dan hindari kerumunan.
  5. Tidak berjabat tangan.
  6. Pakai masker bila sakit atau saat berada di tempat umum.
  7. Segera mengganti baju atau mandi sesampainya di rumah setelah bepergian.

Tingkatkan kekebalan tubuh

Agar kekebala atau imunitas tubuh meningkat, maka kamu harus memperhatikan ini:
  1. Konsumsi gizi seimbang
  2. Konsumsi suplemen vitamin
  3. Tidak merokok
  4. Aktivitas fisik atau senam ringan
  5. Istirahat cukup

Etika batuk dan bersin

Siswa juga kembali diingatkan untuk menerapkan etika bagi dan bersin yang benar:
1. Jika sakit, gunakan masker.
2. Jika tidak pakai masker dan batuk, maka tutup mulut dan hidung dengan lengan atas bagian dalam.
3. Gunakan tisu sekali pakai dan buang di tempat sampah tertutup.
4. Segera cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir

Social distancing dan physical distancing

Para siswa harus mau mentaati imbauan dari pemerintah terkait menjaga jarak (social distancing) dan pembatasan interaksi fisik (physical distancing).
1. Jika harus ke tempat umum, selalu gunakan masker.
2. Jaga jarak dengan orang lain. minimal 1 meter.
3. Hindari kerumunan atau keramaian.
4. Hindari bepergian ke tempat wisata.
5. Tidak berkunjung ke rumah teman.
6. Anak sebaiknya bermain di rumah
7. Jika sakit, maka jangan berkunjung ke orang tua yang berumur diatas 60 tahun.
Sumber: kompas edukasi

Sabtu, 18 April 2020

POSTER KARYA SISWA SPENFOURSADA


Jumat, 17 April 2020

Bersama SPENFOURSADA Melawan COVID - 19


Pemkab Buleleng Merapatkan Barisan Melawan COVID -19

Menyatukan langkah dalam mencegah virus Corona terus dilakukan,apalagi adanya informasi dalam waktu dekat Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Buleleng akan banyak yang pulang. Terkait ini, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengajak semua Camat dan SKPD terkait untuk merapatkan barisan, 17/4, di ruang rapat kantor Bupati

Merdeka Belajar dari Rumah



Proses belajar-mengajar di Indonesia pada masa mendatang akan berubah, andai berhasil menemukan sentuhan tepat dalam proses belajar jarak jauh, yang kini dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Kondisi mendesak, suka-tidak suka, selalu menghasilkan perubahan. Bukan hal yang mustahil, proses belajar-mengajar di Indonesia di masa mendatang akan berubah, andai berhasil menemukan sentuhan tepat dalam proses belajar jarak jauh, yang kini dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mencatat, sekitar 1,5 miliar pelajar di 191 negara terdampak kebijakan belajar dari rumah. Jumlah ini setara dengan 91,3 persen dari total pelajar di dunia dari jenjang pendidikan pradasar hingga pendidikan tinggi. Kondisi serupa terjadi pada semua negara di Asia Tenggara. Singapura, misalnya, 600.587 pelajar tidak lagi dapat melakukan pembelajaran tatap muka seiring bertambahnya kasus positif Covid-19. Kondisi serupa dialami sekitar 7,9 juta pelajar di Malaysia.

Di Indonesia, UNESCO memprediksi sekitar 68,2 juta pelajar dari berbagai jenjang pendidikan kini harus belajar dari rumah. Banyaknya jumlah pelajar yang terdampak tidak terlepas dari semakin meluasnya kasus positif Covid-19 yang kini telah tersebar di semua provinsi.

Bagi Indonesia, ini kali pertama sepanjang usia kemerdekaan, pendidikan formal dilakukan dari rumah secara bersamaan pada seluruh jenjang pendidikan dalam waktu cukup lama. Sebelumnya, tindakan serupa hanya dilakukan secara parsial akibat bencana alam atau bencana sosial dalam jangka pendek. Itu pun hanya di wilayah tertentu di mana ada musibah.

Kesempatan ini tentu menjadi saat yang tepat untuk mempraktikkan skema pembelajaran jarak jauh berbasis pengembangan diri pelajar dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Para pelajar dan guru dapat memanfaatkan kesempatan ini guna mencoba berbagai alternatif yang tepat sehingga pembelajaran jarak jauh efektif dilakukan. Kuncinya, siswa tetap dapat mengembangkan diri sesuai minat dan bakat yang dimiliki.

Akses yang utama

UNESCO memberikan sejumlah rumusan yang dapat menjadi indikator keberhasilan proses belajar dan mengajar dari rumah. Akses digital, pembelajaran inklusif, hingga sinergi keluarga dengan sekolah menjadi beberapa faktor di antaranya. Akses digital menjadi infrastruktur utama yang harus dimiliki tenaga pengajar dan pelajar.

Dalam kondisi saat ini, para pelajar dan tenaga pengajar dituntut adaptif untuk keluar dari batas pendidikan konvensional menuju lingkungan digital. Pada satu sisi, infrastruktur digital tidak sepenuhnya menjadi kendala bagi sebagian pelajar di perkotaan. Akses internet, ketersediaan perangkat, hingga kecakapan penggunaan fasilitas digital, menjadi modal awal untuk menerapkan kebebasan belajar bagi siswa dari rumah.

Kegiatan belajar dan mengajar menggunakan konferensi video, aplikasi pesan berbasis internet, hingga beberapa laman daring yang dilakukan para pelajar, adalah wujud konkret dari sikap adaptif para pelajar dan tenaga pengajar.

Belum semua siap

Di sisi lain, belum semua pelajar dan tenaga pengajar siap menggunakan skema belajar jarak jauh. Salah satu faktor utamanya adalah akses internet yang terbatas. Menurut catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga April 2019, sekitar 24.000 desa belum tersentuh internet. Inilah salah satu bagian kesenjangan digital yang menjadi hambatan pelaksanaan belajar dari rumah.

Selain itu, kesenjangan pembelajaran digital antardaerah juga turut ditentukan oleh kesiapan tenaga pengajar. Keluhan dari pelajar di media sosial tentang banyaknya tugas sekolah yang diberikan tentu menjadi lampu kuning dalam proses ini. Dalam proses belajar dan mengajar jarak jauh, guru tak hanya berperan dalam memberikan tugas kepada para pelajar, tetapi memberikan penjelasan, hingga menjaga kondisi psikis para pelajar, demi adaptasi dengan lingkungan belajar baru.

Antisipasi kesenjangan digital dan kesiapan tenaga pengajar perlu mendapat perhatian, mengingat ini jalan untuk menuju pendidikan inklusif. Meski belajar dari rumah, hak para pelajar untuk memperoleh akses pendidikan secara merata harus tetap menjadi jaminan.

Indikator selanjutnya yang turut menentukan keberhasilan belajar dari rumah adalah komunikasi. UNESCO memperingatkan pentingnya komunikasi pihak sekolah dengan keluarga dalam menjalankan program belajar dari rumah. Ketika epidemi ebola melanda Afrika, sekitar 5 juta anak-anak terdampak kebijakan penutupan sekolah. Namun, saat aktivitas sekolah berangsur normal lagi, tidak semua pelajar yang diliburkan kembali mengenyam pendidikan.

Sebagian di antaranya harus putus sekolah akibat faktor ekonomi, sedangkan sebagian lainnya tidak bersekolah lagi karena menikah di usia dini. Inilah alasan diperlukannya komunikasi yang intensif antara sekolah dan orangtua untuk memastikan keberlangsungan pendidikan para pelajar di tengah pandemi.

Upaya alternatif

Selain akses dan komunikasi, langkah alternatif perlu dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi para pelajar saat belajar di rumah. Memanfaatkan media yang tengah tren saat ini, seperti Youtube, Instagram, atau media digital lainnya, adalah langkah yang bisa dilakukan.

Menurut catatan UNESCO, hingga 15 April, lebih dari 100 negara di dunia telah menerapkan proses belajar-mengajar melalui media alternatif. Di Benua Eropa, Finlandia salah satunya. Melalui portal daring yang disiapkan secara khusus, kegiatan belajar dapat dilakukan oleh pelajar dengan bimbingan tenaga pengajar dan keluarga. Selain portal daring, sejumlah negara juga menggunakan Youtube untuk memberikan materi pembelajaran dalam bentuk video.

Qatar, Irak, Yaman, hingga Ukraina adalah beberapa negara yang telah menerapkannya. Facebook juga menjadi solusi alternatif dalam melakukan kegiatan belajar dan mengajar. Kamboja, Timor Leste, hingga Romania menjadi sebagian negara yang memutuskan untuk menggunakan Facebook dalam memberikan video yang berisi materi pelajaran.

Memanfaatkan media yang tengah tren saat ini, seperti Youtube, Instagram, atau media digital lainnya, adalah langkah yang bisa dilakukan.

Selain video, buku pelajaran juga dapat diunduh secara gratis oleh para pelajar pada beberapa negara. Bahkan, Argentina turut memberikan akses novel klasik sebagai fasilitas yang dapat dinikmati pelajar saat belajar dari rumah. Kebijakan alternatif lainnya dilakukan oleh Liberia dengan memberikan materi pelajaran melalui radio dan televisi.

Langkah ini dapat menjadi solusi bagi pelajar yang kesulitan mengakses bahan pelajaran secara daring. Di Indonesia, kebijakan alternatif juga telah dilakukan untuk menunjang kegiatan belajar dari rumah. Pada tingkat pendidikan pradasar, dasar, dan menengah, pemerintah telah menyediakan laman khusus melalui portal Rumah Belajar yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran jarak jauh. 

Menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hingga kini terdapat 249.810 guru dan 617.237 siswa yang telah memanfaatkan layanan belajar berbasis digital ini. Program lainnya adalah fasilitas belajar melalui televisi yang baru dirilis Kemdikbud bersama TVRI. Sejak 13 April lalu, pelajar di Indonesia dapat mengikuti materi pelajaran sesuai jadwal tayang yang ditetapkan.

Peserta pendidikan anak usia dini (PAUD), misalnya, dapat mengikuti proses belajar melalui siaran sejak pukul 08.00 hingga pukul 08.30. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, program yang sama juga disediakan sejak pukul 08.30 hingga pukul 14.30. Sementara bagi orangtua dan guru, program pengasuhan dan pendidikan anak juga dapat diikuti menjelang sore hari.

Jika dimanfaatkan secara optimal, sejumlah langkah alternatif ini dapat menjadi gerbang menuju reformasi pendidikan di masa yang akan datang. Bisa jadi, pembelajaran jarak jauh kelak akan menjadi pilihan utama dari sistem pendidikan Indonesia jika semua fasilitas telah disiapkan.

Oleh DEDY AFRIANTO
16 April 2020
Litbang kompas

Rabu, 15 April 2020

Nadiem: Guru Honorer Belum Punya NUPTK Bisa Terima Dana BOS

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler bisa digunakan untuk membayar gaji guru honorer yang tak memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) selama masa pandemi corona.


Kebijakan tersebut diambil melihat banyak guru-guru honorer yang terdampak secara ekonomi di masa pandemi corona.

"Sebelumnya pembayaran guru honorer ada retriksi harus memiliki NUPTK dan harus tercatat di Dapodik. Sekarang kita ubah, semasa darurat ini kita lepas NUPTK tapi tetap harus tercatat di Dapodik per 31 Desember 2019. Jadi tak bisa digunakan guru honorer baru yang belum tercatat di Dapodik," kata Nadiem dalam telekonferensi, Rabu (15/4/2020).

Menurut Nadiem, kebijakan tersebut bisa digunakan dengan kriteria guru-guru honorer yang belum mendapatkan tunjangan profesi dan memenuhi beban mengajar. Ia mengingatkan, belajar dari rumah dihitung sebagai beban mengajar.

" Dana BOS masih bisa diberikan kepada tenaga pendidikan bila masih ada dananya," lanjutnya.

Selain itu, menghilangkan batas prosentase pembayaran gaji guru lewat dana BOS sebesar 50 persen. Sebelumnya, Kemendikbud membatasi pembiayaan gaji guru lewat dana BOS sebesar 50 persen.

Kebijakan ini merupakan respon sementara Kemendikbud terhadap krisis ekonomi dan kesehatan yang disebabkan oleh wabah pandemi corona.

Nadiem mengatakan kebijakan ini adalah bentuk fleksibilitas kepada kepala sekolah untuk penggunaan dana DOS. Penyesuaian ini diberikan untuk memberikan kenyamanan untuk para guru.

Sebelumnya, penyaluran dana BOS Reguler bisa diberikan untuk guru honorer tersebut harus memiliki Nomor Unit Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Syarat tersebut diberlakukan menyusul penerbitan Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler pada 5 Februari lalu.

Penyesuaian petunjuk teknis (juknis) penggunaan BOS Reguler diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 19 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Permendikbud Nomor 8 Tahun 2020 tentang Juknis BOS Reguler.

Ketentuan penggunaan dana BOS Reguler serta BOP PAUD dan Pendidikan Kesetaraan ini berlaku mulai bulan April 2020 sampai dengan dicabutnya penetapan status kedaruratan kesehatan masyarakat Covid-19 oleh pemerintah pusat.

Sumber: kompas.com

6 Langkah Beri Siswa Tugas Membahagiakan Saat Belajar Dari Rumah

Saat ini siswa telah memasuki pekan ketiga pembelajaran dari rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Setiap sekolah memiliki teknik dan cara yang berbeda-beda dalam pelaksanaannya. Ada yang mengirim tugas melalui grup WhatsApp kelas, memanfaatkan aplikasi pembelajaran online, bahkan ada juga pembelajaran live di media sosial.

Hanya saja mulai ada keluhan tentang pelaksanaan belajar di rumah ini


Lalu di tengah mengantisipasi penyebaran Covid-19 ini bagaimana memberikan tugas yang membahagiakan siswa?

1. Rancang siklus dan sebaran tugas
Kepala sekolah bersama guru harus mengkalkulasi sebaran tugas untuk setiap mata pelajaran di setiap kelas. Sebagai manajer kepala sekolah harus mendesain siklus tugas yang diberikan guru.

2. Beri tugas secara bertahap
Pemberian tugas secara bertahap menjadikan pembelajaran lebih dimengerti oleh anak. Kemungkinan anak mengerti lebih dalam pada setiap bahasan yang lebih besar. Pemberian tugas secara bertahap juga membuat guru lebih mudah dalam menggorganisasi materi dan pengecekan secara rutin.

3. Menjadi guru yang memiliki empati
Guru yang mendidik dengan hati akan mampu merasakan beban siswanya. Disini guru perlu memgajak siswa melakukan refleksi pembelajaran di rumah. Terutama untuk mendapat masukan dan memperbaiki proses pembelajaran di rumah.

4. Berikan tugas yang membuat bahagia
Tugas guru saat ini adalah membantu pemerintah agar para siswa tetap sehat di tengah wabah Covid 19. Social distancing membuat mereka tidak bisa belajar bersama, guru harus mendesain tugas agar siswa bisa merasa sedang rekreasi di rumah sendiri.

Misalnya, ganti tugas meringkas dengan membuat peta pikiran hasil bacaan. Membuat peta pikiran akan membelajarkan siswa memaknai bacaan tanpa dipaksa. Imajinasi dan kreativitas siswa akan berkembang dan bisa membuat mereka bahagia.

Tugas yang membahagiakan juga bisa dimulai dengan memberikan opsi atau pilihan kegiatan sehingga siswa bisa memilih jenis kegiatan yang mereka paling sukai untuk dikerjakan.

Pilihan kegiatan bisa guru memberikan pilihan juga bisa sangat terbuka diserahkan kepada siswa. Jika ini dilakukan mungkin akan melatih anak untuk berpikir kreatif dalam menentukan dan mendesain sendiri apa yang ingin mereka lakukan terkait tujuan pembelajaran yang disampaikan guru.

Berikan juga tugas proyek individu, seperti menulis cerpen, membuat komik, membuat poster, menulis synopsis, menulis puisi, menulis skenario drama, melukis, membuat jurnal kegiatan selama belajar di rumah, atau membuat laporan tentang perkembangan wabah Covid 19.

5. Beri apresiasi pada siswa
Walaupun tanpa bertatap muka guru harus memberikan apresiasi pada tugas yang sudah dikerjakan siswa, salah satu caranya adalah memajangnya di akun medsos guru, ini adalah cara sederhana penuh bermakna.

6. Dampingi siswa dengan hati
Jangan biarkan siswa merasa sendiri dalam melewati hari-hari belajar mandiri. Guru bisa bangun kebersamaan dan perlihatkan bahwa guru juga belajar, sama seperti mereka yang selalu menambah ilmu.
Mendampingi dengan hati juga bisa dengan membangun kebersamaan dengan pertemuan daring untuk membahas tugas atau membahas kegiatan harian.

Bantu siswa untuk memanfaatkan masa belajar di rumah untuk membangun kedekatan dengan keluarga dan memperbanyak ibadah. Agar hari berat dalam memutus rantai penularan Covid-19 ini bisa mereka lewati dengan bahagia.

Siswa tidak boleh stress. Mereka harus tetap bersemangat hingga saat kembali ke sekolah tiba.

Penulis: Titien Suprihatien, Guru SMPN 11 Batang Hari, Jambi